SERIBU PERNAK PERNIK PONSEL ANDROID

Seribu Pernak Pernik Ponsel Android Aku duduk lama menatap pemandangan itu. Pemandangan yang kulukiskan sendiri, yang ku ukir tanpa memberi kesempatan akal sehatku untuk campur tangan.

SERIBU PERNAK PERNIK PONSEL ANDROID  Aku tak menyesal. Bahkan aku tak merasakan apa-apa sekarang. Kemarahan itu telah menguar, kabur meninggalkan diriku.

SERIBU PERNAK PERNIK PONSEL ANDROID Ya, ini takkan terjadi jika kau mau mendengarkanku. Aku masih ingat dengan jelas, seakan terpatri dalam-dalam di setiap centi otakku.

“Dion, ini Randi,” begitu pertama kali kau memperkenalkannya kepadaku. Ya. Awalnya dia bukan siapa-siapa. Dan aku tak peduli dengannya. Sama sekali tak peduli.

“Aku tidak akan melakukan itu, Dion. Aku manusia waras. Dan aku mencintaimu,” itu jawabanmu saat aku mengutarakan ketidaksukaanku pada Randi. Sayang, aku lebih tahu darimu, seandainya kau mau mendengarkan aku.

Jika ia tak memiliki perasaan lain, Sayang, mengapa aku harus berusaha keras untuk mengalah setiap kali kau merengek minta izinku jalan bersamanya? Aku tahu ini alasannya untuk menyelesaikan proyek brengsek itu, tetapi aku tahu, Sayang. Aku lelaki, sama sepertinya. Aku tahu yang dipikirkannya.

Tapi aku terlalu mencintaimu. Wajah mungilmu yang memohon-mohon tak sanggup ku tolak. Aku memilih membiarkan dirimu dengan berpegangan pada satu alasan kuat, bahwa ini hanya sebatas pekerjaan, dan kau mencintaiku. Ya mencintaiku.

Aku percaya kepadamu. Berkali-kali aku mengatakan itu. Tetapi aku tak percaya dia! Mengapa tak juga kau dengarkan aku?

“Aku tahu, Sayang. Jikapun kecurigaanmu itu benar, itu semua kembali kepadaku, kan?”

Yah, kata-katamu itu ampuh, cukup kuat untuk menenangkanku saat itu.

Tetapi kegilaanku karena kecemburuan semakin parah. Randi makin menunjukkan tanda-tanda persaingan denganku.

Aku ingat aku menamparmu saat itu karena kau lebih memilih membelanya. Aku tahu ini kau lakukan karena kau membutuhkan dia demi jalannya proyek itu, tetap aku tetap tidak suka. Ya, aku sangat marah saat itu. Kau memandangku dengan tatapan sakit hati, dan aku tahu kali ini aku sudah kelewat batas. Kau berlari meninggalkanku dengan luka menganga yang kubuat sendiri. Aku tak sanggup mengejarmu. Bukan karena aku tak mencintaimu, justru karena aku sangat mencintaimu. Aku membiarkanmu menyembuhkan diri dariku, dari manusia bengis yang telah tega menyakiti belahan jiwanya.

Dunia mati saat kau tak bersamaku, Sayang. Akupun mati. Aku kosong.

Di dalam kekosongan itu, tumbuh semacam perasaan kebal. Perasaan yang tak pernah aku rasakan sebelumnya. hanya satu jenis emosi yang mempu menembus perasaan aneh itu. Marah.

Ya, Sayang, aku sangat marah. Kepada diriku, kau, dan terutama Randi, akar dari semua masalah ini.

Aku menemuimu untuk pertama kali sejak terakhir aku menamparmu. Wajah sendumu masih sama. Dan aku tahu perasaan sakit hati itu telah hilang darimu. Tetapi anehnya tak ada perasaan lega yang menjalari tubuhku.

“Aku mencintaimu,” bisikmu lembut di telingaku.

Tidak. Itu tak cukup. Aku melemparkan senyum dan mengecupmu sekali, sekedar untuk menutupi apa yang kurasakan sebenarnya.

Aku tahu kau masih berhubungan dengannya. Aku mulai menguntitmu kemanapun kau pergi. Ya, kau bersamanya. Selalu bersamanya. Aku tak peduli apa urusannya kau bersama dia. Hadirnya dia di sampingmu merupakan api yang mampu membakar setiap sel tubuhku.

Aku akan menghabisinya.

Kau berkata ingin menemuiku lagi. Karena itu aku menggunakan pakaian terbaikku, hanya sekedar ingin meyakinkan diriku bahwa hari ini adalah hari spesial. Bukan untukmu, melainkan untuknya. Aku akan membunuhnya.

Kupandang bayanganku di cermin. Wajah kosong balas memandangku. Dan aku tahu, ada yang salah dari wajah itu. Tapi aku terlalu sibuk untuk memikirkannya.

Aku menemuimu di tempat proyek, dan itu dia. Aku melihat Randi, aku sudah setengah melangkah ke arahnya ketika kau mendekapku dari belakang. Aku berbalik, dan melihatmu menyunggingkan senyummu yang sangat manis. Bahkan itu tak mempan meruntuhkan tembok kebal yang kini makin tebal di dalam diriku.

Kau menciumku. Ya, menciumku, di depannya. Seharusnya itu cukup. Aku tahu kau ingin menunjukkan bahwa kau dan dia tak pernah ada apa-apa. Seharusnya itu cukup.

Tapi tidak untukku. Kobaran api telah menjilat-jilat terlalu besar.

Kau menarikku pulang. Aku sudah akan menolak, tetapi akhirnya kuikuti langkahmu, tanpa berpikir panjang.

Kau tersenyum dan memelukku, berulang-ulang mengatakan bahwa kau sangat mencintaiku. Aku membiarkanmu menumpahkan isi hati. Sebenarnya aku tak peduli. Otakku bekerja keras memikirkan cara menghabisinya.

Aku menarik keluar pisau lipat yang memang telah kupersiapkan di balik selipan celanaku.

Aku masih mengingat wajahmu yang luar biasa terkejut.

aku berjalan keluar sambil berkata kepadamu bahwa aku harus membunuhnya.

Dan kau mulai menangis. Kau memohon-mohon agar aku tak melakukannya.

Aku tak menemukan alasan untuk berhenti, jadi aku tetap melangkah.

“Aku mencintaimu, Dion, tolonglah. Dia tak penting.” Berulang-ulang kau mengatakan hal itu.

Kau berusaha menahanku. Kau menarik-narik tanganku. Tetapi luapan kemarahanku sudah mencapai ubun-ubun. Ini tak bisa dibendung lagi. Kau terus menghalangiku.

Saat itulah aku menjadi buta.

Aku berbalik, menciummu, dan menusukkan pisau itu di pinggangmu. Berkali-kali. Dan setiap tusukan mengalirkan keluar kemarahan dari dalam tubuhku.

Kau masih dalam pelukanku, dan aku masih terus menghujamkan pisau itu, di tempat manapun yang bisa kucapai.

Akhirnya semua terkuras habis. Kemarahan itu lenyap. Aku kini kosong. Tapi tembok kebal yang sangat tebal itu tak kunjung runtuh.

Aku duduk di sebelah tubuhmu, memandangimu. Perlahan-lahan, aku merasakan getaran kuat di ujung jariku. Pisau terlepas dari tanganku. Aku menatap kedua tanganku yang bersimbah darah. Getaran itu menjalar, hingga seluruh tubuhku.

Dan seketika, tembok itu hancur, seakan melarikan diri dan membiarkanku sendiri menanggung semuanya.

Paru-paruku kosong. Kepalaku berat. Aku menarik nafas sebanyak yang aku bisa. Tetapi tarikan nafas bagai ribuan jarum menusuk-nusuk dadaku.

Wajah kosongmu menatapku.

Aku berteriak, sekencang-kencangnya. Air mata mulai membasahi wajahku. Aku memukul-mukul kepalaku.

Aku yang sebenarnya tak mendengarkanmu. Kau mencintaiku. Apa yang kupikirkan? Seharusnya itu cukup dari dulu-dulu.

Aku menarikmu ke dalam pelukanku dan mengoncangkan tubuhmu keras-keras. Kau harus bangun. Aku ingin melihat senyuman itu lagi. Aku mencium bibirmu yang dingin. aku tahu kau akan bangun, seperti cerita-cerita anak-anak bodoh itu. Aku adalah pangeranmu, dan aku tahu sebentar lagi kau akan membuka mata karena ciumanku pasti ampuh.

Aku tahu.

Sebenarnya aku tak tahu. Aku memukul-mukul tubuhmu, tetapi tak ada yang terjadi.

Pandanganku menjadi gelap. Sebentar lagi aku akan kehilangan kesadaran. Tapi itu tak boleh terjadi. Aku harus menemanimu.

Aku mengambil pisau sialan itu. Aku menciummu sekali lagi, lalu dengan mantap kuiriskan kuat-kuat ke pergelangan tanganku.

Dan aku tahu aku telah bersamamu.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di SEO dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s